Beberapa tahun terakhir, hidup terasa berat. Bukan jenis lelah yang bisa diselesaikan dengan tidur, liburan, atau sekadar self-care. Ini lelah yang menetap di dada, datang diam-diam, dan kadang membuat hati bertanya: sampai kapan aku sanggup?
Di fase itu, aku banyak “berobat jalan” kepada Allah. Bukan dengan teori, bukan dengan ceramah panjang, tapi dengan dialog. Kadang berupa doa, kadang hanya diam, kadang berupa tangis yang bahkan tak sempat dirangkai jadi kata. Anehnya, dari situ hidup terasa lebih ringan. Masalahnya belum tentu selesai, tapi dadaku tidak sesempit sebelumnya.
Di tengah perjalanan itu, aku membaca tentang stoicism—sebuah konsep filsafat yang mengajarkan untuk membedakan mana yang berada dalam kendali kita dan mana yang tidak. Terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, stoicism menyarankan satu sikap: lepaskan. Jangan melawan kenyataan, jangan menyiksa diri dengan hal yang berada di luar kuasa kita.
Aku terdiam. Ada bagian dari konsep itu yang terasa akrab. Bukan asing. Bukan bertentangan. Justru seperti mengingatkan pada sesuatu yang sudah lama kukenal, tapi mungkin jarang kusadari secara sadar.
Dalam Islam, aku diajari tentang ikhtiar dan tawakkal. Tentang usaha yang maksimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tentang sabar, bukan sebagai sikap pasrah kosong, tapi sebagai kekuatan batin untuk tetap lurus meski hidup berbelok. Tentang ridha—menerima takdir bukan karena paham seluruh rencananya, tapi karena percaya penuh kepada Sang Perencana.
Di titik itu aku sadar: stoicism membantuku berhenti melawan kenyataan, tapi Islam mengajariku kepada siapa aku bersandar ketika berhenti melawan.
Stoicism terasa seperti berkata, “Tenanglah, ini di luar kendalimu.”
Islam melanjutkan dengan bisikan yang lebih dalam,
“Tenanglah, Aku bersamamu.”
Aku sempat ragu mengakui keselarasan itu. Takut keliru. Takut melampaui ilmu. Takut seolah menyamakan filsafat dengan wahyu. Namun semakin kupikirkan, semakin jelas perbedaannya: stoicism berhenti pada ketenangan rasional, sementara Islam mengalir hingga ketenangan spiritual. Stoicism mengajarkan menerima, Islam mengajarkan mempercayai.
Mungkin karena itu, konsep “bodo amat” yang sering dilekatkan pada stoicism terasa berbeda ketika dipraktikkan dalam iman. Bukan karena tidak peduli, tapi karena memilih menjaga hati. Bukan karena menyerah, tapi karena sadar: tidak semua hal layak dibawa ke hadapan jiwa.
Hari ini, aku tidak merasa perlu memberi label pada prosesku. Entah itu stoicism, psikologi, atau apa pun namanya. Yang kutahu, setiap kali aku kembali berdialog dengan Allah—jujur, rapuh, tanpa topeng—bebanku berkurang. Bukan karena hidup menjadi ringan, tapi karena aku tidak lagi memikulnya sendirian.
Dan mungkin, di situlah letak ketenangan yang sesungguhnya.
---
Wallâhu a'lam
Comments