Dalam beberapa tahun terakhir, konsep stoicism kembali populer, terutama sebagai pendekatan psikologis dalam menghadapi tekanan hidup yang kompleks dan tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh individu. Stoicism menekankan pentingnya pembedaan antara hal-hal yang berada dalam kendali manusia dan hal-hal yang berada di luar kendali tersebut. Sikap mental yang dianjurkan adalah penerimaan rasional (acceptance) terhadap realitas, disertai pengendalian emosi agar individu tidak terseret oleh peristiwa eksternal. Dalam konteks pengalaman personal menghadapi fase hidup yang berat, pendekatan ini tampak menawarkan kelegaan psikologis. Sikap melepaskan keterikatan emosional terhadap hal-hal yang tidak dapat dikendalikan berpotensi mengurangi distres, kecemasan, dan konflik batin. Pada titik ini, stoicism dapat dipahami sebagai strategi coping yang bersifat kognitif dan afektif. Namun, ketika ditinjau dari perspektif Islam, muncul pertanyaan penting: sejauh mana stoicism dapat dipandang sel...
Beberapa tahun terakhir, hidup terasa berat. Bukan jenis lelah yang bisa diselesaikan dengan tidur, liburan, atau sekadar self-care . Ini lelah yang menetap di dada, datang diam-diam, dan kadang membuat hati bertanya: sampai kapan aku sanggup? Di fase itu, aku banyak “berobat jalan” kepada Allah. Bukan dengan teori, bukan dengan ceramah panjang, tapi dengan dialog. Kadang berupa doa, kadang hanya diam, kadang berupa tangis yang bahkan tak sempat dirangkai jadi kata. Anehnya, dari situ hidup terasa lebih ringan. Masalahnya belum tentu selesai, tapi dadaku tidak sesempit sebelumnya. Di tengah perjalanan itu, aku membaca tentang stoicism —sebuah konsep filsafat yang mengajarkan untuk membedakan mana yang berada dalam kendali kita dan mana yang tidak. Terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, stoicism menyarankan satu sikap: lepaskan. Jangan melawan kenyataan, jangan menyiksa diri dengan hal yang berada di luar kuasa kita. Aku terdiam. Ada bagian dari konsep itu yang terasa akrab....