Skip to main content

Bekam dalam Perspektif Islam dan Medis: Sunnah, Manfaat, dan Kehati-hatian bagi Penyintas Kanker


Bekam atau hijamah dikenal sebagai salah satu metode pengobatan yang dianjurkan Rasulullah ﷺ. Di tengah tren pengobatan alternatif, bekam semakin populer dan sering dianggap sebagai solusi berbagai penyakit. Namun muncul pertanyaan penting: Apakah bekam benar-benar aman untuk semua orang? Dan khususnya, apakah aman bagi penyintas kanker?

Artikel ini mencoba menjawabnya dengan pendekatan seimbang: berdasarkan dalil Islam dan bukti ilmiah modern.


---

Bekam sebagai Sunnah Pengobatan

Dalam hadis sahih disebutkan:

> "Sebaik-baik pengobatan yang kalian gunakan adalah bekam."
(HR. Bukhari dan Muslim)



Rasulullah ﷺ juga disebut pernah berbekam di beberapa titik tubuh seperti kepala dan punggung. Ini menunjukkan bahwa bekam merupakan salah satu metode pengobatan yang diperbolehkan dan dianjurkan dalam Islam.

Namun, para ulama menekankan bahwa sunnah dalam pengobatan bukanlah kewajiban mutlak, melainkan bentuk ikhtiar yang mengikuti kondisi orang yang menerapkannya. Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma‘ad menjelaskan bahwa pengobatan Nabi bersifat konteks­tual, sesuai kondisi fisik masyarakat saat itu.

Dengan demikian, bekam adalah sunnah dalam arti boleh dan dianjurkan jika membawa manfaat, bukan kewajiban yang harus dilakukan oleh semua orang dalam segala kondisi.


---

Bekam dalam Ilmu Kedokteran Modern

Dalam dunia medis, bekam dikenal sebagai cupping therapy, dengan dua jenis:

1. Dry cupping (tanpa luka kulit)


2. Wet cupping (dengan sayatan kecil)



Bekam basah tergolong tindakan invasif ringan karena melibatkan:

= Luka terbuka
= Pengeluaran darah
= Respons inflamasi lokal


Artinya, bekam bukan terapi bebas risiko.


---

Apa Kata Penelitian Ilmiah tentang Manfaat Bekam?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bekam memiliki potensi manfaat, terutama dalam pengelolaan nyeri.

Manfaat yang Paling Konsisten Didukung Bukti:

Beberapa meta-analisis dan systematic review menemukan bahwa bekam dapat membantu dalam:

= Nyeri punggung bawah (low back pain)
= Nyeri leher
= Carpal tunnel syndrome
= Nyeri otot kronis
= Sakit kepala
= Tekanan darah tinggi ringan


Sebuah meta-analisis tahun 2024 menunjukkan bahwa cupping therapy secara signifikan menurunkan tingkat nyeri dan disabilitas pada pasien dengan chronic low back pain. Review sistematis lainnya juga melaporkan hasil positif dalam manajemen nyeri muskuloskeletal.

Selain itu, penelitian eksperimental menunjukkan bekam dapat:

= Meningkatkan aliran darah lokal
= Mengurangi mediator inflamasi
= Mengaktivasi mekanisme modulasi nyeri saraf (gate control theory)


Namun perlu dicatat: 

Sebagian besar penelitian:

= Skala kecil
= Durasi penelitian pendek
= Kualitas metodologi sedang hingga rendah
= Tidak melibatkan pasien kanker


Dengan kata lain, bekam bukan terapi berbasis bukti kuat untuk kondisi berat atau sistemik seperti kanker.


---

Risiko Medis dan Efek Samping Bekam

Meski tergolong aman bila dilakukan secara profesional, bekam tetap mengandung risiko.

Berbagai laporan ilmiah mendokumentasikan efek samping berikut:

Infeksi kulit
Abses
Luka bakar
Bekas luka permanen
Anemia
Panniculitis (radang jaringan lemak)
Reaksi alergi
Infeksi menyebar (sepsis) jika prosedur tidak steril


Review keselamatan cupping therapy menunjukkan bahwa sebagian besar efek samping terjadi akibat:

Teknik yang salah
Alat tidak steril
Kurangnya pelatihan terapis



---

Bekam dan Pasien Kanker: Kenapa Perlu Sangat Hati-hati?

Inilah bagian paling sensitif.

Beberapa review medis menyebutkan secara eksplisit bahwa:

> “Cupping therapy contraindicated in cancer patients until sufficient safety evidence is available.”



Artinya: 
Bekam tidak direkomendasikan bagi pasien kanker sampai ada bukti keamanan yang jelas.

Alasannya sangat rasional:


---

1. Risiko Infeksi Jauh Lebih Tinggi

Pasien kanker atau penyintas kanker sering mengalami:

Imunitas rendah
Gangguan penyembuhan luka
Kulit lebih rapuh
Kerusakan jaringan akibat kemoterapi atau radiasi


Bekam basah = luka terbuka
→ meningkatkan peluang bakteri masuk ke dalam tubuh.

Pada tubuh yang immunocompromised, infeksi ringan pun bisa berakibat fatal.


---

2. Gangguan Darah dan Anemia

Pasien kanker sering mengalami:

Penurunan trombosit
Gangguan koagulasi
Anemia kronis


Bekam → kehilangan darah meski sedikit
→ bisa memperburuk kondisi.


---

3. Inflamasi Tambahan Tidak Selalu Baik

Bekam bekerja dengan menciptakan inflamasi mikro.

Pada orang sehat, ini bisa merangsang proses penyembuhan.

Pada penyintas kanker, inflamasi tambahan:

Dapat mengganggu pemulihan
Berpotensi memperberat kondisi jaringan



---

4. Tidak Ada Pedoman Onkologi yang Menganjurkan Bekam

Di dunia onkologi modern:

Akupunktur → punya guideline internasional.

Bekam → tidak punya.


Artinya: Bekam belum dianggap aman secara standar medis untuk pasien kanker.


---

Sunnah, Ilmu, dan Hikmah

Islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengorbankan keselamatan jiwa demi menjalankan sunnah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain."



Dalam kaidah fiqh disebutkan:

Dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih
(Mencegah mudarat lebih diutamakan daripada mengambil manfaat)


Jika bekam berpotensi membahayakan, dan dokter menyarankan untuk menghindari, maka tidak bekam justru bagian dari ketaatan.


---

Alternatif Aman bagi Penyintas Kanker

Sebagai pengganti bekam, medis modern menganjurkan:

= Akupunktur medis
= Fisioterapi
= Exercise terstruktur
= Diet anti-inflamasi
= Terapi psikologis
= Mindfulness & zikir
= Terapi nyeri non-invasif


Semua ini dapat menjadi ikhtiar yang lebih aman.


---

Kesimpulan

Bekam adalah: 
✅ sunnah
✅ bermanfaat untuk nyeri tertentu
❌ bukan obat semua penyakit
❌ tidak dianjurkan bagi pasien kanker

Mengikuti saran dokter bukan menolak sunnah.
Itu justru menjalankan sunnah dengan ilmu.


---

DAFTAR PUSTAKA 

Berikut daftar referensi yang bisa kamu tampilkan di blog:

1. Al-Bedah, A. M., et al. (2016).
The medical perspective of cupping therapy: Effects and mechanisms of action.
Journal of Traditional and Complementary Medicine.


2. Cao, H., Han, M., Li, X., Dong, S., Shang, Y., Wang, Q., et al. (2012).
Clinical research evidence of cupping therapy in China: A systematic review.
PLoS ONE.


3. Kim, T. H., et al. (2014).
Adverse events related to cupping therapy in studies conducted in Korea: A systematic review.
European Journal of Integrative Medicine.


4. Aboushanab, T. S., & AlSanad, S. (2018).
Cupping therapy: An overview from a modern medicine perspective.
Journal of Complementary and Alternative Medical Research.


5. Chen, B., et al. (2024).
Effectiveness of cupping therapy on chronic low back pain: A meta-analysis.
Journal of Pain Research.


6. Lee, M. S., et al. (2011).
Cupping for pain: A systematic review.
Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine.


7. Lin, Y., et al. (2023).
Cupping therapy for pain management: A review of recent evidence.
Complementary Therapies in Clinical Practice.


8. Aboushanab, T. S., et al. (2020).
Safety concerns and contraindications of cupping therapy.
Medical Journal of Complementary Medicine.


9. Barashi, N. S., et al. (2023).
Cupping therapy as an anti-inflammatory therapy and immunomodulator in cancer patients.
Journal of Evidence-Based Integrative Medicine.


10. Lyman, G. H., et al. (2022).
Integrative oncology and supportive care guidelines.
CA: A Cancer Journal for Clinicians.


11. StatPearls Publishing. (2023).
Cupping Therapy.
In: StatPearls [Internet].
National Library of Medicine.


12. Kim, J. I., et al. (2016).
Safety of cupping therapy: A review of adverse events.
Journal of Alternative and Complementary Medicine.




---

Wallâhu a'lam. 

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Antara Psikologi Barat dengan Psikologi Islami

Perbedaan utama antara psikologi Barat dan psikologi Islami terletak pada dasar filosofis dan pendekatan yang digunakan dalam memahami jiwa manusia. Berikut adalah beberapa perbedaan kunci antara keduanya: 1. Pandangan tentang Hakikat Manusia: Psikologi Barat: Umumnya, psikologi Barat memandang manusia dari sudut pandang materialistik, di mana perilaku dan proses mental manusia dijelaskan melalui faktor biologis, psikologis, dan sosial. Pendekatan ini sering kali mengesampingkan aspek spiritual atau religius dari kehidupan manusia. Psikologi Islami: Psikologi Islami melihat manusia sebagai makhluk yang terdiri dari unsur fisik, mental, dan spiritual. Dalam Islam, manusia memiliki ruh (jiwa) yang berasal dari Allah, dan tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan sejati dengan mendekatkan diri kepada Allah. Pandangan ini mencakup aspek spiritual yang sangat penting dalam memahami kesejahteraan jiwa. 2. Sumber Pengetahuan: Psikologi Barat: Sumber utama pengetahuan psikologi Barat ad...

🌙 Faedah, Insight & Pelajaran Psikologi , Tasawuf, dan Leadership, dari Hijrah Nabi Muhammad ﷺ

Hijrah adalah perpindahan Nabi ﷺ dan para sahabat dari Mekah ke Madinah setelah tekanan, ancaman, dan kekerasan yang berkepanjangan dilakukan oleh kaum Quraisy. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-13 kenabian dan menjadi titik balik sejarah peradaban Islam. Pelajaran Hijrah dari Perspektif Psikologi Islam 🧠 1. Psikologi Ketahanan ( Resilience ): Hijrah = Model Coping Spiritual Tertinggi Sebagai minoritas yang ditekan, kaum Muslim mengalami stres berat: penyiksaan, embargo ekonomi, isolasi sosial, hingga ancaman pembunuhan kepada Nabi ﷺ. Namun, mereka tetap bertahan. Peristiwa hijrah menunjukkan contoh nyata resilience —kemampuan bertahan, bangkit, dan tumbuh dari tekanan. Nabi ﷺ mengajarkan tetap bergerak meski kondisi sulit, mempersiapkan strategi jangka panjang, mengelola ketakutan dengan iman dan tindakan, dan bekerja sama dengan tim yang saling menguatkan.  Ini relevan bagi siapa saja yang menghadapi tantangan hidup: keluarga, kesehatan, finansial, karier, ataupun spiritual. ...