Skip to main content

Meninjau Kembali Poligami dalam Islam: Pendekatan Hermeneutika Muhammad Syahrur

Rangkuman Jurnal IKLILA Vol. 7 No. 2 November 2024 yang bertajuk MENINJAU KEMBALI AYAT-AYAT POLIGAMI: Pendekatan Hermeneutika Muhammad Syahrur dan Implikasinya terhadap Pemahaman Hukum Islam

https://ejournal.iaikhozin.ac.id/ojs/index.php/iklila/article/view/256

Dalam dunia yang terus berkembang, pemahaman terhadap hukum Islam, khususnya mengenai poligami, memerlukan pendekatan yang lebih kontemporer. Muhammad Syahrur, seorang pemikir terkemuka, menawarkan perspektif baru melalui metode hermeneutika yang mendalam.

Apa Itu Hermeneutika?
Hermeneutika adalah seni dan ilmu dalam menafsirkan teks, yang mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan psikologis. Syahrur menggunakan pendekatan ini untuk menafsirkan ayat-ayat poligami dalam Al-Qur'an, memberikan wawasan yang lebih luas dan relevan.

Batasan dalam Poligami
Syahrur menekankan bahwa praktik poligami harus memenuhi dua batasan:

  1. Batasan Kuantitatif: Maksimal empat istri.
  2. Batasan Kualitatif: Istri kedua dan seterusnya harus janda dengan anak, memastikan tanggung jawab suami terhadap anak-anak yatim.

Keadilan dalam Poligami
Keadilan bukan hanya antara istri, tetapi juga kepada anak-anak yatim. Syahrur mengajak kita untuk memahami bahwa tanggung jawab suami dalam poligami mencakup kesejahteraan semua anggota keluarga.

Kesimpulan
Pendekatan hermeneutika Syahrur memberikan kontribusi signifikan dalam pemahaman hukum Islam, menjadikannya lebih relevan dengan tantangan zaman modern. Dengan memahami konteks dan batasan, kita dapat melihat poligami dalam cahaya yang lebih adil dan manusiawi. Dengan menerapkan prinsip-prinsip metodologi Syahrur ini, kita tidak hanya menghormati tradisi, tetapi juga memungkinkan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Wallahu a'lam.

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Antara Psikologi Barat dengan Psikologi Islami

Perbedaan utama antara psikologi Barat dan psikologi Islami terletak pada dasar filosofis dan pendekatan yang digunakan dalam memahami jiwa manusia. Berikut adalah beberapa perbedaan kunci antara keduanya: 1. Pandangan tentang Hakikat Manusia: Psikologi Barat: Umumnya, psikologi Barat memandang manusia dari sudut pandang materialistik, di mana perilaku dan proses mental manusia dijelaskan melalui faktor biologis, psikologis, dan sosial. Pendekatan ini sering kali mengesampingkan aspek spiritual atau religius dari kehidupan manusia. Psikologi Islami: Psikologi Islami melihat manusia sebagai makhluk yang terdiri dari unsur fisik, mental, dan spiritual. Dalam Islam, manusia memiliki ruh (jiwa) yang berasal dari Allah, dan tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan sejati dengan mendekatkan diri kepada Allah. Pandangan ini mencakup aspek spiritual yang sangat penting dalam memahami kesejahteraan jiwa. 2. Sumber Pengetahuan: Psikologi Barat: Sumber utama pengetahuan psikologi Barat ad...

Bekam dalam Perspektif Islam dan Medis: Sunnah, Manfaat, dan Kehati-hatian bagi Penyintas Kanker

Bekam atau hijamah dikenal sebagai salah satu metode pengobatan yang dianjurkan Rasulullah ﷺ. Di tengah tren pengobatan alternatif, bekam semakin populer dan sering dianggap sebagai solusi berbagai penyakit. Namun muncul pertanyaan penting: Apakah bekam benar-benar aman untuk semua orang? Dan khususnya, apakah aman bagi penyintas kanker? Artikel ini mencoba menjawabnya dengan pendekatan seimbang: berdasarkan dalil Islam dan bukti ilmiah modern. --- Bekam sebagai Sunnah Pengobatan Dalam hadis sahih disebutkan: > "Sebaik-baik pengobatan yang kalian gunakan adalah bekam." (HR. Bukhari dan Muslim) Rasulullah ﷺ juga disebut pernah berbekam di beberapa titik tubuh seperti kepala dan punggung. Ini menunjukkan bahwa bekam merupakan salah satu metode pengobatan yang diperbolehkan dan dianjurkan dalam Islam. Namun, para ulama menekankan bahwa sunnah dalam pengobatan bukanlah kewajiban mutlak, melainkan bentuk ikhtiar yang mengikuti kondisi orang yang menerapkannya. Ibn Qayyim al-Ja...

🌙 Faedah, Insight & Pelajaran Psikologi , Tasawuf, dan Leadership, dari Hijrah Nabi Muhammad ﷺ

Hijrah adalah perpindahan Nabi ﷺ dan para sahabat dari Mekah ke Madinah setelah tekanan, ancaman, dan kekerasan yang berkepanjangan dilakukan oleh kaum Quraisy. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-13 kenabian dan menjadi titik balik sejarah peradaban Islam. Pelajaran Hijrah dari Perspektif Psikologi Islam 🧠 1. Psikologi Ketahanan ( Resilience ): Hijrah = Model Coping Spiritual Tertinggi Sebagai minoritas yang ditekan, kaum Muslim mengalami stres berat: penyiksaan, embargo ekonomi, isolasi sosial, hingga ancaman pembunuhan kepada Nabi ﷺ. Namun, mereka tetap bertahan. Peristiwa hijrah menunjukkan contoh nyata resilience —kemampuan bertahan, bangkit, dan tumbuh dari tekanan. Nabi ﷺ mengajarkan tetap bergerak meski kondisi sulit, mempersiapkan strategi jangka panjang, mengelola ketakutan dengan iman dan tindakan, dan bekerja sama dengan tim yang saling menguatkan.  Ini relevan bagi siapa saja yang menghadapi tantangan hidup: keluarga, kesehatan, finansial, karier, ataupun spiritual. ...